Jumat, 03 Desember 2010

Pesantren Al Amien di Sumenep

Mesjid al amien prenduan sumenepTarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI) Al-Amien Prenduan berdiri secara resmi pada Jum’at, 10 Syawal 1371 atau 3 Desember 1971. Kehadirannya di panggung sejarah bermula dari obsesi dan cita-cita luhur KH. A. Djauhari Khatib - leluhur Pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan saat ini - terhadap berdirinya sebuah lembaga pendidikan modern dan representative, dengan para santri yang memiliki etika salafi, namun fasih berkomunikasi bahasa arab dan inggris. Menguasai pengetahuan agama dan umum dengan baik. Serta berdatangan dari segenap penjuru nusantara, bahkan kalau mungkin dari negara-negara tetangga. Beliau tersugesti oleh keberhasilan KH. Imam Zarkasyi mengembangkan Pondok Modern Gontor.
Sampai saat ini, lembaga yang dirintis dari sebuah Desa di penghujung Pulau Madura ini, berkambang pesat sehingga menjelma menjadi sebuah lembaga pendidikan dan social yang diperhitungkan di Madura dan Indonesia. Dari desa terpencil inilah lahir kader-kader umat, yang berobsesi untuk selalu BELAJAR, BERKEMBANG, dan MANDIRI.
Tidak hanya Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah ( TMI putra-putri ) saja yang menjadi sorotan umat, melainkan Yayasan Pondok Pesantren Al-Amien juga mempunyai lembaga-lembaga lain, Ma’had Tahfidzil Qur’an (putra-putri), Institut Dirosat Al-Islamiyah Al-Amien ( IDIA ), MTs dan MA Al-Amien, Raudlatul Athfal Al-Amien dan lembaga-lembaga social lainnya.
Sepeninggal KH. Ahmad Tidjani Jauhari, MA, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan dipimpin oleh KH. Moh. Idris Jauhari. Beliaulah sekarang yang memegang kendali atas keberlangsungan Pondok Pesantren ini. Secara otomatis, beliau juga membawahi lembaga-lembaga yang bernaung di bawah Yayasan pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.
Sebagai lembaga kader, Pondok Pesantren Al-Amien, khususnya Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah, sudah banyak melahirkan kader-kader mundzirul qaum dan tokoh masyarakat yang tersebar di seluruh Nusantara ini. Ada yang menjadi Pimpinan pondok pesantren, Praktisi hukum, Cendekiawan, penulis, dan lain sebagainya. Yang penting, mereka adalah kader-kader penerus perjuangan Islam. Semoga.

Sumenep Secara Umum

Sumenep merupakan Kabupaten di Jawa Timur yang berada di ujung paling Timur Pulau Madura, bisa dibilang sebagai salah satu kawasan yang terpenting dalam sejarah Madura. Kita dapat menjumpai situs-situs kebudayaan yang sampai hari ini masih menjadi obyek pariwisata.
Di Kabupaten itu pula, banyak terpencar pulau-pulau kecil yang kaya akan sumber daya alam dan hasil pertanian. Bahkan, kabupaten ini penuh dengan sejarah raja-raja yang sampai sekarang masih menjadi objek wisata menarik untuk bahan tela’ah dan observasi bagi masyarakat. Yang lebih menarik lagi, di kabupaten ini anda akan temukan sebuah pesantren megah, indah nan modern.
Namanya, Pondok Pesantren Al-Amein Prenduan. Sebagai pesantren kader yang mencetak mundzirul qaum, Pesantren ini menjadi bagian sejarah dari Kabupaten Sumenep. Sebagai bukti, kalau kabupaten ini penuh dengan sejarah, bias kita lihat dari pintu gerbang masjid agung yang ada di tengah-tengah kota.

Nilai Filosofis Lokasi Keraton dan Masjid Jamik Sumenep

Keraton Sumenep berdiri diatas tanah milik pribadi Pangeran Natakusuma alias Panembahan Somala.Di depan keratin, kea rah selatan berdiri Pendapa Agung, dan di depannya berdiri Gedong Negeri yang didirikan oleh Pemerintah Belanda.Pembangunan Gedong Negeri itu, untuk menyaingi kewibawaan Keraton Sumenep, karena disinyair oleh mata-mata Belanda bahwa Adipati sumenep sering mengadakan rapat rahasia dengan para pejabat-pejabat yang menentang Belanda.
Disebelah timur Gedong Negeri tersebut berdiri pintu masuk Keraton Sumenep, yang disebut Labang Mesem.Di pintu gerbang itu para penjaga bersikap ramah-tamah kepada para tamu, sehingga para tamu selalu tersenyum.Di bagian pojok sebelah timur bagian selatan berdiri Taman Sare (tempat pemandian putera-puteri Adipati).Sedangkan di halaman belakang keraton sebelah timur berdiri dapur, sebelah barat berdiri sisir (tempat tidur para pembantu keraton, emban, dayang-dayang puteri Adipati), di sebelah barat terdapat sumur.Di depan sumur agak kea rah barat berdiri Keraton Ratu R.Ayu Rasman Tirtanegara, dan di depannya berdiri pendapa.Tetapi di jaman pemerintahan Sultan Abdurrahman pendapa dipindahkan ke Asta Tinggi dan disitu didirikan Kantor Koneng.Di sebelah selatan Kantor Koneng, di pojok sebelah barat pintu masuk berdiri pendapa (paseban).
Pada mulanya antara keraton dengan Pendapa letaknya terpisah.Namun pada masa pemerintahan Sultan Abd. Ranchman Pakunataningrat, kedua bangunan tersebut dijadikan satu deret.Di sebelah selatan Taman Sare berdiri Pendapa atau Paseban dan sekarang dijadikan toko souvenir.Di sebelah selatan keraton terbentang jalan menuju masjid jamik (kea rah barat), sedangkan ke arah timur menuju jalan Kalianget.Di sebelah timur keraton adalah perkampungan, dan di arah timur jalan adalah Kampung Patemon.artinya tempat tempat pertemuan aliran air taman keraton dan aliran-aliran air taman milik rakyat dan taman lake’ (tempat pemandian prajurit keraton.Aliran air itu kemudian disalurkan ke kali Marengan.Dari jalan Dr.Sutomo kea rah timur terdapat jalan menurun, sebelum tikungan jalan berdiri pintu gerbang keluar atau Labang Galidigan.Di sebelah barat pintu keluar terdapat jalan menurun, bekas undakan tujuh.
Disebelah selatan undakan tujuh terdapat Sagaran atau laut kecil merupakan tempat bertamasya putera-puteri Adipati.Sagaran tersebut di lengkapi dengan perahu untuk tamasya putera-puteri Adipati.KIni, Sagaran tersebut ditempati perumahan rakyat dan lapangan tennis.Di sebelah barat lapangan tennis, berdiri kamarrata merupakan tempat kereta kencana, dan di belakangnya berdiri kandang kuda lengkap dengan dua taman.Taman di sebelah timur ditempati buaya putih yang dipelihara oleh Adipati pada jaman itu.Sedangkan taman di sebelah barat merupakan tempat pemandian kuda.Kini, bagian belakang Kamarrata didirikan Taman Kanak-Kanak dan di sebelah selatannya didirikan Gedung Olahraga atau lapangan bulutangkis.Dibelakang lapangan bulutangkis didirikan perumahan rakyat.
Di sebelah selatan alun-alun didirikan Tangsi Prajurit Keraton yang kemudian diubah menjadi Korp Barisan Sumenep, pada tahun 1831 M.Di depan tangsi merupakan tempat latihan para prajurit keraton atau Korp Barisan Sumenep.Daerah tersebut oleh Pangeran Natakusuma dihadiahkan kepada Lauw Pia Ngo cucu Lanuw Kun Thing, sebagai arsitek Kraton dan Masjid Jamik Sumenep.Disebelah timur kawasan pasar merupakan perkampungan.Kemudian pada jaman pendudukan Jepang di sebelah timur perkampungan dibongkar dan dijadikan pasar kambing.

Arti kata Songenneb

Dalam kenyataannya menjadi jelas bahwa kata Songenneb adalah nama asal pada masa kuno.Songenneb menurut arti etimologis(asal-usul kata), yaitu:
1. Song berarti relung, geronggang (bahasa Kawi), Ennep berarti mengendap (tenang).Jadi Songennep berarti lembah bekas endapan yang tenang.
2. Song berarti sejuk, rindang, paying.Ennep berarti mengendap (tenang).Jadi Songenneb berarti lembah endapan yang sejuk dan rindang.
3. Song berarti relung atau cekungan, Ennep berarti tenang.Jadi songenneb berarti lembah, cekungan yang tenang atau sama dengan pelabuhan yang tenang.
Setelah menelaah sebutanSongenneb dari arti katanya (etimologi).Beberapa pendapat yang berkembang di masyarakat Sumenep mengenai artian kata Soengenneb:

Rabu, 01 Desember 2010

◄Pesona Alam Sumenep►


Kalau Jogja mempunyai Pantai Parangtritis, Pantai Baron, dan Pantai Samas, Sumenep mempunyai pantai yang tak kalah indah, Pantai Slopeng dan Pantai Lombang. Kedua pantai tersebut terletak di bagian utara, menghadap Laut Jawa. Posisi itu menjadikan Slopeng dan Lombang tempat yang tepat untuk menyaksikan indahnya Sang Surya terbit di ufuk timur.
Pantai Slopeng terletak sekitar 21 km arah utara Sumenep. Lokasinya mudah dijangkau karena terletak di jalur utama pantai utara Pulau Madura. Selain keindahan perbukitan pasir putih yang membentang sepanjang pantai, Slopeng juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan olahraga seperti perahu layar dan selancar angin.

◄Batik Sumenep►


Sumenep juga punya industri batik. Desa Pakandaran, Kecamatan Bluto merupakan sentra industri batik dengan proses pembuatan, teknik, dan motif yang khas Madura. Ciri batik Madura terletak warnanya yang tegas, dengan dominasi warna merah, hijau, atau hitam.
Desa Pakandaran tidak sulit dijangkau. Desa ini hanya masuk 500 meter dari jalan raya Pamekasan-Sumenep. Namun sayang, meski dikenal sebagai sentra industri batik, warga Desa Pakandaran banyak yang mengurangi kegiatan membatiknya dan beralih memanen tembakau saat musim panen tiba.

◄Pembuatan Garam►


Tak lengkap rasanya kalau mengunjungi Madura yang juga dikenal dengan Pulau Garam ini, tanpa mengunjungi sentra pembuatan garam di Desa Karanganyar, Kalianget. Meski garam sangat akrab dengan kehidupan kita, tidak banyak rasanya di antara kita yang tahu proses pembuatan garam.
Pembuatan garam dimulai dengan pemetakan tanah, kemudian diisi air laut dengan kadar garam rendah. Setelah beberapa hari didiamkan, air laut dari beberapa petak digabungkan sampai mencapai kadar garam 21 persen. Setelah itu, air tersebut didiamkan sampai terbentuk kristal-kristal garam yang siap dipanen.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More